Kabar Naskah

Menampilkan informasi manuskrip di Jawa Barat.

Silsilah Keluarga

Menelusuri Jejak Leluhur: Silsilah Keluarga Galuh Cibogo Parakannyasag

Manuskrip ini berisi uraian silsilah keluarga yang ditelusuri dari para penguasa Galuh, kemudian Cibogo, lalu Parakannyasag. Judul dalam teks tercatat sebagai Sadjarah Galuh Tjibogo Prakannjasag (halaman 16). Naskah berbahasa Sunda dan ditulis dalam aksara Latin berbentuk prosa ini terdiri dari 30 halaman, namun yang tertulis hanya 15 halaman, sisanya kosong. Manuskrip ini ditulis di atas kertas dan menggunakan tinta hitam. Secara fisik, naskah ini masih dalam keadaan baik, meskipun terdapat 6 lembar halaman lepas berukuran folio yang agak kusam. Manuskrip ini dikarang oleh M. O. Sastradipura pada abad ke-20 di Tasikmalaya. Naskah ini berasal dari M. O. Sastradipura dan saat ini disimpan oleh Rustijo, S. H. di Tasikmalaya. Selain silsilah keluarga, dalam lembar halaman lepas juga berisi daftar nama tokoh yang pernah berkedudukan di pemerintahan Parakannyasag, daftar nama bupati Sumedang turunan Pangeran Santri tertanggal 3 November 1969 yang ditandatangani oleh R. Suria Danuningrat, dan otobiografi M. O. Sastradipura yang disusun di Tasikmalaya oleh Rustijo tertanggal Syawal 1410 H (April - Mei 1990), salinan dibuat oleh Iwan Mulyawan R. tertanggal 5 Oktober 1987. Ukuran sampul naskah adalah 21 x 16,5 cm, halaman 21 x 16 cm, dan tulisan 17,5 x 16 cm. Naskah ini merupakan jilid 1 dari 1 dan menggunakan alas naskah buku tulis bergaris buatan dalam negeri.

Sumber: Ekadjati, Edi S. dan Darsa, Undang A. (1999). Jawa Barat, Koléksi Lima Lembaga: Katalog Induk Naskah Nusantara Jilid 5A. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Manuskrip Lainnya


Ogin Amar Sakti: Kisah Putra Permaisuri dari Banjaran Bandung

Telusuri kisah Ogin Amar Sakti, seorang putra permaisuri yang difitnah dan terusir dari istana. Wawacan berbahasa Sunda beraksara Pegon ini mengungkap intrik kerajaan, kejahatan yang terungkap, dan kemenangan kebenaran. Manuskrip ini menawarkan jendela ke dalam budaya dan sastra Sunda pada abad ke-20.

Suluk Wulung Aya dan Wulangreh: Untaian Mistisme Islam dari Cirebon

Telusuri kedalaman spiritualitas Islam melalui manuskrip kuno Suluk Wulung Aya dan Wulangreh. Naskah ini, ditulis dalam bahasa Jawa Cirebon dan aksara Cacarakan, menawarkan wawasan mistis tentang konsep ketauhidan. Mari kita selami lebih dalam warisan intelektual dari Keraton Kasepuhan Cirebon.

Menelusuri Akar: Silsilah Sajarah Bandung yang Kaya akan Sejarah

Temukan jejak sejarah melalui manuskrip Silsilah Sajarah Bandung. Naskah berbahasa Sunda beraksara Latin ini mengungkap diagram silsilah penting, mulai dari Prabu Siliwangi hingga keturunannya. Sebuah warisan berharga yang merekam jejak tokoh-tokoh penting.

Menelusuri Jejak Leluhur: Sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon dalam Untaian Silsilah

Manuskrip "Sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon" adalah khazanah pengetahuan yang mengungkap silsilah panjang para penguasa dan tokoh penting di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Ditulis dalam bahasa Jawa Cirebon menggunakan aksara Pegon dan Cacarakan, naskah ini tidak hanya menyajikan urutan nama, tetapi juga menyingkap pemahaman mendalam tentang hakikat Illahi dan ajaran tarekat.

Mantra Tani: Warisan Leluhur untuk Kesuburan Bumi

Telusuri kearifan lokal masyarakat Sunda dalam menjaga kesuburan padi melalui manuskrip Mantra Tani. Naskah kuno ini mengungkap ritual dan doa yang dipraktikkan untuk melindungi tanaman dari hama dan meningkatkan hasil panen. Mari kita selami lebih dalam isi dan sejarah naskah berharga ini.

Wawacan Ahmad Muhamad: Kisah Heroik dalam Balutan Sunda dan Arab

Manuskrip ini menyimpan kisah heroik Ahmad dan Muhamad dalam bentuk puisi wawacan. Ditulis dalam bahasa Sunda dan Arab menggunakan aksara Pegon dan Arab, naskah ini menawarkan kombinasi unik antara tradisi lokal dan pengaruh keislaman. Mari selami lebih dalam isi dan rincian metadata dari naskah kuno ini.

Kisah Cinta dan Perebutan Kekuasaan dalam Wawacan Angling Sari

Wawacan Angling Sari, sebuah manuskrip Sunda beraksara Pegon, mengisahkan tentang intrik kerajaan, cinta terlarang, dan perebutan kekuasaan. Naskah puisi ini ditulis pada tahun 1970 oleh Ibu Wahir di Banjaran, Bandung, dan kini tersimpan di EFEO Bandung. Kisah ini membawa kita ke negeri Pulung Kancana dan Puloseta, tempat Angling Sari berjuang merebut kembali haknya.

Mengungkap Jejak Islamisasi dan Pemerintahan Hindia Belanda dalam 'Sejarah Cianjur'

Telusuri lembaran sejarah Priangan abad ke-18 melalui manuskrip 'Sejarah Cianjur'. Naskah ini menyajikan gambaran wilayah Cianjur, Bogor, dan Sumedang pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan awal islamisasi. Simak kisah detailnya dalam narasi berikut.