Kabar Naskah

Menampilkan informasi manuskrip di Jawa Barat.

Doa

Kumpulan Doa: Warisan Naskah Pegon Abad ke-18 dari Cirebon

Naskah "Kumpulan Doa" ini menawarkan intisari ajaran Islam yang dipraktikkan di Cirebon pada abad ke-18. Di dalamnya, kita dapat menemukan doa-doa penting seperti doa shalat jenazah, perlindungan dari musuh, kelancaran rezeki, dan keselamatan. Selain itu, naskah ini juga memuat tuntunan shalat bagi musafir, penjelasan tentang zakat, hakikat shalat, serta kisah tentang alam kubur. Naskah yang ditulis dalam bahasa Jawa dan Arab menggunakan aksara Pegon ini terdiri dari 42 halaman yang terbuat dari dluwang. Ukuran sampul dan halaman adalah 23 x 16 cm, dengan ukuran tulisan 17 x 12 cm. Naskah ini merupakan jilid 1 dari 1, dengan jenis alas naskah buatan lokal dan sampul yang masih lengkap. Kondisi fisik naskah menunjukkan usia dan perjalanannya, dengan kertas yang kecoklatan, bercak hitam akibat lembab, dan penjilidan yang mulai kendor. Tinta yang digunakan berwarna hitam pucat, dan tulisan kurang kontras. Naskah ini berasal dari Bapak Oyo di Kp. Cihamerang, Banjaran Kabupaten Bandung, dan kini tersimpan di EFEO Bandung. Sayangnya, beberapa bagian teks rusak dan tidak tamat, seperti yang terlihat pada kutipan awal dan akhir teks.

Sumber: Ekadjati, Edi S. dan Darsa, Undang A. (1999). Jawa Barat, Koléksi Lima Lembaga: Katalog Induk Naskah Nusantara Jilid 5A. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Manuskrip Lainnya


Primbon Sunda: Ramalan dan Pertanda dari Pangalengan

Telusuri kearifan lokal Sunda melalui naskah Primbon yang memuat ramalan berdasarkan perhitungan perjalanan binatang, naktu angka, serta siklus hari saptawara dan pancawara. Manuskrip ini mengungkap cara menentukan hari baik dan buruk, menafsirkan denyutan anggota badan, hingga meramalkan kemunculan Iman Mahdi.

Nagara Kretabhumi: Mengungkap Tragedi Bubat dan Nagari Masa Lalu

Manuskrip Nagara Kretabhumi membawa kita menyelami sejarah Cirebon dan wilayah sekitarnya. Naskah ini mengisahkan peristiwa penting seperti tragedi Bubat dan menyebutkan berbagai nagari seperti Buwun, Tulangbawang, dan lainnya. Sebagai bagian dari seri ke-5 dalam bagian I, naskah ini melengkapi dan memperbaiki informasi dari teks-teks sebelumnya.

Primbon Cirebon: Menjelajahi Hakikat Kemanusiaan dalam Naskah Kuno

Temukan kebijaksanaan kuno dalam naskah Primbon Cirebon, sebuah warisan berharga dari Keraton Kasepuhan. Naskah ini mengungkap berbagai aspek kehidupan melalui lensa keislaman, disajikan dalam prosa Jawa Cirebon yang memikat. Jelajahi uraian mendalam tentang hakikat kemanusiaan dan simbolisme yang tersembunyi di dalamnya.

Layang Seh: Kisah Syekh Abdul Qadir Jaelani dalam Wawacan Cirebon

Temukan pesona Layang Seh, fragmen dari Wawacan Syekh Abdul Qadir Jaelani berbahasa Jawa Cirebonan. Naskah kuno ini, ditulis dalam aksara Pegon, memuat episode ke-32 dari kisah sang wali. Simak uraian tentang kondisi fisik naskah, asal-usulnya, dan petunjuk tentang penulisnya.

Jaka Bayawak: Kisah Cinta dan Kesaktian dalam Wawacan Sunda

Telusuri kisah epik Jaka Bayawak, seorang pangeran berwujud biawak yang penuh petualangan! Manuskrip kuno berbahasa Sunda ini menyimpan cerita cinta, kesaktian, dan peperangan yang memukau. Mari selami lebih dalam isi dan rincian metadata naskah ini.

Untaian Pupujian: Syair Penuh Makna dari Bandung

Temukan keindahan warisan sastra Islam Sunda melalui manuskrip Pupujian ini. Berisi syair-syair yang dilantunkan sebelum shalat berjamaah, naskah ini memadukan bahasa Arab dan Sunda, mengungkap makna mendalam melalui tafsir yang menyejukkan jiwa. Sebuah artefak budaya yang kaya akan nilai spiritual dan tradisi.

Sumpena Kanagan: Kisah Heroik Pewaris Tahta dari Ciwidey

Manuskrip Sumpena Kanagan adalah sebuah karya sastra Sunda berbentuk puisi wawacan yang ditulis dalam aksara Pegon. Naskah ini mengisahkan perjuangan Sumpena dan Kanagan merebut kembali tahta kerajaan yang dirampas. Disimpan di EFEO Bandung, naskah ini menawarkan jendela ke dalam budaya dan nilai-nilai masyarakat Sunda pada masa lampau.

Suryakanta: Kisah Putra Suryaningrat dalam Wawacan Beraksara Pegon

Telusuri kisah epik Suryakanta, putra Suryaningrat, melalui manuskrip kuno "Suryakanta". Naskah berbentuk puisi wawacan ini ditulis dalam aksara Pegon dan berbahasa Sufida. Simak lika-liku kehidupannya, intrik di antara istri-istri Suryaningrat, hingga pertemuannya kembali dengan sang ibu setelah diculik raksasa.