Kabar Naskah

Menampilkan informasi manuskrip di Jawa Barat.

Danumaya

Danumaya: Kisah Putra Raja Gilang Kancana dalam Wawacan Sunda

Manuskrip Danumaya mengisahkan tentang Danumaya, putra raja dari negara Gilang Kancana, yang melakukan perjalanan ke negara Keling. Di sana, ia berhasil menolong Putri Arumningrat dan kemudian mempersunting Dewi Sinta setelah mengalahkan berbagai tantangan. Alur cerita semakin menarik ketika Arumningrat menculik Dewi Sinta dan mengurung Danumaya. Dengan bantuan Pandita Argawilis, Danumaya berhasil membebaskan diri dan kembali ke Gilang Kancana.

Manuskrip ini ditulis dalam bahasa Sunda menggunakan aksara Pegon, dengan judul dalam teks Lalakon Danumaya dan di sampul Wawacan Danumaya. Naskah ini terdiri dari 267 halaman dengan ukuran sampul 21,5 x 17,5 cm dan ukuran tulisan 18 x 13,5 cm. Naskah ini terdiri dari 48 pupuh yang diawali dengan pupuh Asmaradana. Kondisi fisik naskah secara umum masih baik meskipun kertasnya tampak kekuningan dan ada 11 halaman yang hilang. Naskah ini diperkirakan merupakan salinan dari tahun 1918 dan berasal dari Omo, Kp. Kiarapayung, Desa Banjaran Wetan, Kec. Banjaran, Kab. Bandung. Saat ini, manuskrip ini tersimpan di EFEO Bandung.

Sumber: Ekadjati, Edi S. dan Darsa, Undang A. (1999). Jawa Barat, Koléksi Lima Lembaga: Katalog Induk Naskah Nusantara Jilid 5A. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Manuskrip Lainnya


Mengenal Sifat-Sifat Allah: Manuskrip Tauhid Sunda Abad ke-19 dari Bandung

Telusuri pemahaman mendalam tentang sifat-sifat Allah melalui manuskrip kuno "Tauhid" berbahasa Sunda. Naskah prosa ini, ditulis dalam aksara Pegon pada abad ke-19, mengungkap ajaran tasawuf dan konsep dzat serta sifat-sifat-Nya. Mari selami kearifan lokal Bandung yang tertuang dalam lembaran-lembaran kertas Eropa berfiligran ini.

Keagungan Siti Fatimah dalam Manuskrip 'Sahadat Fatimah': Jejak Sejarah Cianjur

Manuskrip 'Sahadat Fatimah' adalah sebuah dokumen ringkas yang mengagungkan Siti Fatimah, putri Nabi Muhammad SAW. Ditulis dalam bahasa Sunda dan Jawa dengan aksara Pegon, naskah ini memberikan pernyataan tentang kemuliaan Siti Fatimah. Mari selami lebih dalam tentang asal-usul dan isinya.

Untaian Doa: Warisan Naskah Banjaran Abad ke-20

Temukan keindahan dan kearifan lokal dalam naskah kuno 'Kitab Doa'. Manuskrip ini menyimpan kekayaan doa-doa, ayat suci Al-Quran, dan mantra Islami yang mencerminkan praktik spiritual masyarakat Banjaran, Bandung, pada abad ke-20. Sebuah warisan berharga yang menghubungkan kita dengan tradisi dan keyakinan leluhur.

Danumaya: Kisah Cinta dan Kepahlawanan dalam Wawacan Sunda

Wawacan Danumaya adalah sebuah manuskrip puisi berbahasa Sunda yang mengisahkan petualangan seorang pangeran bernama Danumaya. Manuskrip ini merupakan hasil transliterasi dari aksara Pegon, menceritakan kisah cinta, keberanian, dan perpaduan budaya dalam latar belakang cerita Panji yang diislamisasi. Simak narasi lengkapnya di bawah ini!

Ayat Lima Belas: Penolak Bala dari Tanah Sunda

Telusuri khazanah manuskrip kuno 'Ayat Lima Belas', sebuah warisan budaya Sunda yang memadukan ayat-ayat suci Al-Quran dengan kepercayaan lokal. Naskah ini dipercaya memiliki kekuatan magis untuk menolak bahaya dan gangguan, memberikan perlindungan bagi siapa saja yang membacanya. Mari kita simak lebih dalam tentang naskah ini.

Misteri Kode Manuskrip Sunda Abad ke-19: Sebuah Identifikasi yang Tertukar

Sebuah manuskrip Sunda dari abad ke-19 yang disimpan di EFEO Bandung menyimpan teka-teki. Kekeliruan dalam penomoran kode naskah menghambat proses identifikasi yang akurat. Naskah ini menjadi bukti penting kekayaan budaya tulis Sunda di masa lalu.

Menjelajahi Kitab Fiqih: Warisan Ilmu dari Banjaran Bandung

Temukan intisari ajaran ibadah dan hukum-hukumnya dalam manuskrip kuno 'Kitab Fiqih'. Naskah ini, yang ditulis dalam bahasa Arab dan Sunda, menawarkan wawasan berharga tentang konsep wajib, sunat, mubah, makruh, dan haram. Mari selami lebih dalam kandungan naskah ini!

Wawacan Damarwulan: Kisah Cinta dan Kepahlawanan dari Majapahit

Manuskrip Wawacan Damarwulan berbahasa Sunda ini mengisahkan intrik kerajaan dan kepahlawanan di Majapahit. Dewi Kencana Wungu, mewarisi tahta kerajaan, menghadapi ancaman dari Menak Jingga dari Blambangan. Kisah ini juga menyinggung tokoh Damarwulan meskipun perannya tidak begitu menonjol dalam naskah ini.