Kabar Naskah

Menampilkan informasi manuskrip di Jawa Barat.

Dwipantara

Mengungkap Pustaka Dwipantara: Warisan Cirebon yang Terlestarikan

Pustaka Dwipantara, yang ditulis dalam bahasa Jawa Cirebon menggunakan aksara Cacarakan, adalah sebuah prosa setebal 120 halaman yang tersimpan di Museum Negeri Jawa Barat "Sri Baduga" Bandung. Naskah ini, yang ditulis di atas dluwang, merupakan seri terakhir dari sepuluh seri Pustaka Dwipantara. Inti uraiannya terdapat pada halaman 24-119, mengisahkan awal berdirinya Kerajaan Islam Demak di Jawa Tengah saat Kerajaan Wilwatika merosot. Sultan Demak pertama adalah Raden Patah, bergelar Sultan Alam Akbar Abdul Fatah Al Jawi. Manuskrip ini menyebutkan tokoh seperti Pangeran Pager, adik Mas Jolang (bupati Demak), dan Sultan Agung Mataram. Naskah ini ditemukan di Jawa Timur pada tahun 1987 dan diperbaiki pada Desember 1987 - Januari 1988. Naskah ini berukuran sampul 35 x 27 cm, halaman 35 x 27 cm, dan tulisan 31 x 22 cm, dijilid dengan kertas tradisional dan sampul kain belacu. Penomoran halaman menggunakan angka Cacarakan 1-120 di margin atas tengah, dengan tinta hitam dan tulisan yang terbaca dalam bingkai garis ganda. Kondisi fisik naskah umumnya baik, meski kertas kusam kecoklatan dan penjilidan agak ketat. Karangan ini ditulis oleh Pangeran Wangsakerta dkk atas prakarsa Sultan-Sultan Cirebon pada tahun 1677 di Cirebon.

Sumber: Ekadjati, Edi S. dan Darsa, Undang A. (1999). Jawa Barat, Koléksi Lima Lembaga: Katalog Induk Naskah Nusantara Jilid 5A. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Manuskrip Lainnya


Sangkuriang: Kisah Klasik Sunda dengan Sentuhan Arab dan Kolonial

Manuskrip "Sangkuriang" dari tahun 1283 Hijriah ini menyajikan kisah legendaris dengan alur yang sedikit berbeda dari versi yang kita kenal. Naskah berbahasa Sunda ini ditulis dalam aksara Jawa dan berbentuk prosa. Mari kita telusuri lebih dalam isi dan detail menarik dari naskah kuno ini.

Babad Cirebon: Kisah Ratu Pajajaran dan Penyebaran Islam

Telusuri lembaran sejarah Cirebon melalui manuskrip Babad Cirebon yang memukau. Naskah ini mengisahkan perjalanan spiritual Walangsungsang dan Rarasantang, putra-putri Ratu Pajajaran, dalam mencari ilmu agama Islam. Temukan pula visualisasi menarik melalui ilustrasi bendera, burung bangau, dan gapura yang menghiasi halaman-halaman naskah kuno ini.

Danumaya: Kisah Pemuda Sakti dari Tanah Sunda

Telusuri kisah kepahlawanan Danumaya, seorang pemuda sakti berparas tampan dari tanah Sunda. Naskah kuno ini mengisahkan petualangannya membebaskan putri hingga menaklukkan kerajaan. Mari selami lebih dalam warisan budaya yang terukir dalam lembaran-lembaran manuskrip.

Dua Sajarah: Kisah Munding Mitra dan Pangeran Kusuma Adi Nata

Manuskrip ini menghadirkan dua kisah sejarah dalam bentuk prosa berbahasa Sunda. Pertama, petualangan Munding Mitra, putra Prabu Siliwangi, yang penuh dengan perkawinan dan konflik. Kedua, perjalanan Pangeran Kusuma Adi Nata, bupati Sumedang, yang penuh liku-liku kekuasaan dan pengasingan.

Mengenal Tasawuf: Syair Jawa Pegon Abad ke-19 dari Cirebon

Temukan warisan intelektual Islam Jawa melalui manuskrip kuno "Tasawuf (Aqoid/Tauhid)". Naskah berbahasa Jawa beraksara Pegon ini mengungkap ajaran tasawuf mendalam. Manuskrip ini menawarkan perspektif unik tentang spiritualitas Islam yang berkembang di Cirebon pada abad ke-19.

Kisah Gandasari dan Jagatrasa: Wawacan Sunda Abad ke-19

Telusuri kisah epik Gandasari dan Jagatrasa dalam manuskrip Wawacan Sunda abad ke-19. Manuskrip ini menceritakan petualangan mereka mencari ayam ajaib, menghadapi pengkhianatan, dan akhirnya menemukan keadilan. Simak narasi lengkapnya di bawah ini!

Wawacan Lukmanul Hakim: Kisah Heroik Amir Hamzah Melawan Kekafiran

Manuskrip ini menyimpan kisah kepahlawanan dan perjuangan menegakkan agama Islam. Di dalamnya tertuang cerita tentang ketegangan antara pasukan Islam di Mekah melawan kaum kafir dari berbagai negeri. Keberanian Amir Hamzah dan Umarmaya menjadi kunci kemenangan.

Mengungkap Pustaka Dwipantara: Warisan Cirebon yang Terlestarikan

Telusuri Pustaka Dwipantara, seri terakhir dari sepuluh naskah kuno yang memuat sejarah berdirinya Kerajaan Islam Demak di tengah kemunduran Wilwatika. Manuskrip ini ditulis dalam bahasa Jawa Cirebon dengan aksara Cacarakan. Naskah ini ditemukan kembali di Jawa Timur pada tahun 1987 dan telah diperbaiki.