Kabar Naskah

Menampilkan informasi manuskrip di Jawa Barat.

Pustaka Rajya

Menjelajahi Sejarah Nusantara: Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara

Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara adalah naskah kuno yang mengisahkan sejarah kerajaan-kerajaan di wilayah Nusantara. Manuskrip ini merupakan seri ke-1 dari bagian IV naskah Pustaka Raja kawasa l Bhumi Nusantara, atau disebut juga Pustaka Sapinasuk Pustaka Rajya-rajya / Bhumi Nusantara. Ditulis dalam bahasa Jawa Cirebon menggunakan aksara Cacarakan, naskah ini terdiri dari 161 halaman dluwang. Manuskrip ini dikarang oleh Pangeran Wangsasakerta dkk. atas prakarsa Sultan-sultan Cirebon pada tahun 1683. Naskah ini tersimpan di Museum Negeri Jawa Barat “Sri Baduga” Bandung. Kondisi fisik naskah umumnya masih baik meskipun kertasnya kusam kecoklat-coklatan dan penjilidannya agak ketat. Pada bagian akhir teks disebutkan tokoh-tokoh seperti Raden Patah, Sultan Demak pertama, dan tokoh berwibawa dalam Wali Sanga. Penulisannya selesai pada Indra Suddha rasa Cipta, Pancadasa, kresnapaksa, srawanamasa, yang setara dengan tahun 1683 Masehi.

Sumber: Ekadjati, Edi S. dan Darsa, Undang A. (1999). Jawa Barat, Koléksi Lima Lembaga: Katalog Induk Naskah Nusantara Jilid 5A. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Manuskrip Lainnya


Menjelajahi Tarekat: Untaian Ilmu Tauhid dari Cirebon Abad ke-18

Temukan warisan intelektual Islam dari abad ke-18 Cirebon melalui manuskrip kuno berjudul 'Tarekat'. Naskah ini mengungkap kedalaman ajaran tauhid yang berakar pada Tarekat Syatariyah, menawarkan perspektif unik tentang martabat tujuh dan praktik spiritual.

Ningrum Kusumah (Suryaningrat): Kisah Cinta Putri Arab di Tanah Sunda

Manuskrip kuno berbahasa Sunda ini mengisahkan cerita Ningrum Kusumah, seorang putri Arab yang mencari anak panahnya hingga ke Pulau Jawa. Pertemuannya dengan Suryaningrat, pemuda tampan, membawanya ke dalam jalinan cinta dan pernikahan. Kisah ini tertuang dalam bentuk puisi wawacan yang digemari masyarakat Sunda.

Doa Selamat Bertani: Warisan Kearifan Lokal dari Banjaran Bandung

Naskah kuno Doa Selamat Bertani ini menyimpan kearifan lokal masyarakat agraris dalam mengelola padi. Berisi doa-doa yang dipanjatkan dari mulai penyemaian hingga panen, naskah ini menjadi saksi bisu harapan petani agar hasil panen terhindar dari hama dan membawa berkah.

Menelusuri Pelajaran Agama Islam dalam Wawacan Sunda Abad ke-19

Temukan intisari ajaran Islam dalam manuskrip kuno Pelajaran Agama Islam. Naskah berbahasa Sunda beraksara Pegon ini, berbentuk puisi wawacan, mengungkap pemahaman mendalam tentang Rukun Islam, terutama Shahadat dan Shalat, yang dikemas dalam gaya bahasa yang indah dan sarat makna. Mari kita selami warisan intelektual Islam dari tanah Sunda.

Wawacan Danumaya: Kisah Raden Panji Menggapai Takhta

Telusuri petualangan Raden Panji Danumaya dalam mengemban amanah sang ayah, Prabu Panji Subrata, raja negeri Gilangkancana. Naskah kuno berbahasa Sunda ini, tertulis dalam aksara Pegon, memuat kisah perjuangan Danumaya menghadapi berbagai rintangan hingga akhirnya dinobatkan sebagai raja.

Kisah Heroik Darmatmaja: Wawacan Raja Darma dari Hindustan

Terperangkap dalam intrik perebutan kekuasaan, Wawacan Raja Darma mengisahkan Darmatmaja, raja Hindustan yang budiman. Serangan mendadak dari Raja Sura Sakti membawanya pada penangkapan, namun takdir berkata lain. Pemberontakan rakyat dan pembebasan Darmatmaja membuka lembaran baru bagi Hindustan.

Mengungkap Hakekat Ilmu Rasa: Manuskrip Tasawuf Abad ke-19 dari Bandung

Telusuri ajaran tasawuf dalam manuskrip kuno 'Hakekat Ilmu Rasa'. Naskah abad ke-19 ini, ditulis dalam bahasa Sunda dan Jawa menggunakan aksara Pegon, mengungkap tata cara memahami eksistensi Dzat Allah dan Nur Muhammad melalui rukun Islam dan rukun Iman.

Menjelajahi Khazanah Khutbah Jumat dalam Manuskrip Sunda-Arab Abad ke-20

Manuskrip kuno ini menghadirkan kombinasi unik antara khutbah Jumat, doa-doa magis, dan pelajaran agama Islam. Ditulis dalam bahasa Sunda dan Arab dengan aksara Pegon, naskah ini memberikan gambaran sekilas tentang praktik keagamaan dan intelektual masyarakat Pangalengan, Bandung, pada abad ke-20.