Kabar Naskah

Menampilkan informasi manuskrip di Jawa Barat.

Babad Pasir

Babad Pasir: Kisah Cinta dan Tahta dari Banyumas

Manuskrip Babad Pasir ini mengisahkan Raden Banyakcatra, putra Raja Pajajaran, yang berencana meminang Dewi Ciptarasa dari Pasirluhur. Namun, alih-alih kembali ke Pajajaran, Banyakcatra justru mewarisi tahta Pasirluhur, sementara tahta Pajajaran jatuh ke tangan saudaranya. Naskah ini ditulis dalam bahasa dan aksara Jawa, berbentuk puisi wawacan setebal 158 halaman. Ditulis dengan tinta hitam kebiru-biruan di atas kertas lokal yang kini agak kusam, naskah ini masih terbaca dengan jelas. Teks ini terdiri atas 32 pupuh. Manuskrip ini merupakan salinan dari naskah yang lebih tua bertahun 1894 yang diduga dibuat di daerah Banyumas. Naskah ini disalin kembali oleh Soewigno pada tahun 1971. Naskah ini berasal dari Soewigno yang beralamat di Banyumas, Jawa Tengah, dan saat ini disimpan di EFEO Bandung. Ukuran sampul dan halamannya adalah 22 x 17 cm, dengan ukuran tulisan 21 x 16 cm.

Sumber: Ekadjati, Edi S. dan Darsa, Undang A. (1999). Jawa Barat, Koléksi Lima Lembaga: Katalog Induk Naskah Nusantara Jilid 5A. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Manuskrip Lainnya


Samaun: Kisah Heroik Pahlawan Islam dalam Wawacan Sunda

Manuskrip Wawacan Samaun mengisahkan kepahlawanan Samaun, seorang tokoh Islam yang gagah berani. Ia digambarkan berhasil melumpuhkan Abu Jahal dan pasukannya yang hendak membunuh Nabi Muhammad SAW. Naskah ini juga menceritakan pertempuran antara pasukan muslim melawan balatentara Raja Kibti.

Kisah Lokayanti: Wawacan Sunda dari Tasikmalaya Abad ke-20

Telusuri kisah Lokayanti, raja penentang Amir Hamzah dalam Wawacan Lokayanti. Manuskrip berbahasa Sunda beraksara Pegon ini ditulis pada tahun 1913 di Tasikmalaya. Naskah ini memberikan gambaran tentang sastra Sunda bernuansa keislaman awal.

Menelusuri Carita Parahiyangan Sakeng Bhumi Jawa Kulwan: Jejak Sejarah Cirebon

Temukan jejak sejarah Jawa Kulwan melalui manuskrip kuno Carita Parahiyangan Sakeng Bhumi Jawa Kulwan. Naskah ini, ditulis dalam bahasa Jawa Cirebon dengan aksara Cacarakan, mengungkap kisah-kisah penting dari masa lalu. Mari selami isi naskah yang kaya akan nilai sejarah dan budaya ini.

Primbon Sunda: Petunjuk Bertani dan Ramalan dari Sukabumi

Temukan kearifan lokal dalam manuskrip Primbon berbahasa Sunda. Naskah kuno ini mengungkap tata cara perhitungan tradisional untuk bercocok tanam yang tepat, serta petunjuk untuk berbagai kegiatan agar mendapatkan hasil yang optimal. Warisan budaya dari Sukabumi ini menyimpan pengetahuan berharga tentang pertanian dan kehidupan.

Menjelajahi Khazanah Khutbah Hari Raya: Antara Arab, Sunda, dan Kearifan Lokal Bandung

Temukan keindahan dan kearifan lokal dalam manuskrip kuno 'Khutbah Hari Raya'. Naskah ini memuat bacaan dan uraian mengenai Shalat Idul Fitri dan Idul Adha, disajikan dalam dua bahasa: Arab dan Sunda. Lebih dari sekadar panduan ibadah, manuskrip ini menyimpan doa-doa, salawat, hingga 'jampe cipta cai', sebuah warisan budaya yang kaya makna.

Menjelajahi Nagara Kretabhumi: Kisah dari Cirebon Abad ke-17

Naskah Nagara Kretabhumi, yang ditulis dalam bahasa Jawa Cirebon dengan aksara Cacarakan, membawa kita pada perjalanan sejarah dan budaya. Ditulis pada dluwang, naskah ini berisi kisah tentang asal-usul berbagai kerajaan di Nusantara, lengkap dengan deskripsi tentang masyarakat dan peristiwa penting. Mari selami lebih dalam isi dan keunikan naskah ini.

Primbon Sunda: Ramalan Bintang dan Salawat Nabi dari Bandung Abad ke-19

Telusuri lembaran Primbon Sunda kuno yang mengungkap ramalan perbintangan dan lantunan salawat nabi. Naskah abad ke-19 ini, ditemukan di Bandung, menyimpan kearifan lokal dan tradisi keagamaan yang kaya. Kondisi fisik naskah yang rapuh menjadi saksi bisu perjalanan waktu.

Wawacan Pua-pua Bermanasakti: Kisah Islamisasi di Tanah Sunda

Telusuri jejak islamisasi di Nusantara melalui Wawacan Pua-pua Bermanasakti. Manuskrip puisi berbahasa Sunda beraksara Pegon ini menyimpan kisah menarik yang berkaitan dengan Majapahit dan proses penyebaran agama Islam. Kondisi fisik naskah yang berasal dari Pangalengan, Bandung ini memperlihatkan usianya yang diperkirakan dari abad ke-20.