Kabar Naskah

Menampilkan informasi manuskrip di Jawa Barat.

Pandita Sawang

Layang Pandita Sawang: Kisah Tasawuf dalam Wawacan Sunda

Manuskrip Layang Pandita Sawang merupakan naskah kuno berbahasa Sunda yang ditulis dalam aksara Pegon. Naskah ini berbentuk puisi wawacan yang terdiri dari 60 halaman. Secara garis besar, naskah ini berisi ajaran tasawuf yang disajikan dalam bentuk cerita suluk. Dialog antara tokoh-tokoh seperti Pandita Sawang, Ki Murat, dan Waruga Alam membahas hakekat dan eksistensi Allah, dengan konsep 'manunggaling kawula Gusti' sebagai inti ajaran mistik Islam. Naskah ini ditulis pada tahun 5 Jumadilakhir 1341 H atau 1924 M di Leles, Garut. Naskah ini memiliki judul lain di luar teks yaitu Wawacan Pandita Sawang. Ukuran sampul naskah adalah 21,5 x 17,5 cm, halaman 21,5 x 17,5 cm, dan tulisan 18,5 x 14,5 cm. Naskah yang terdiri atas 4 pupuh ini diawali dengan pupuh Asmarandana dan diakhiri dengan kalimat 'tah lumayan suanna, taba hanteu bisa ngaji'. Kondisi fisik naskah menunjukkan kertas yang kecoklatan dan terdapat noda, serta penjilidan yang longgar. Naskah ini berasal dari Bapak H. Holil dari Kp. Lempong, Desa Karangsari, Kec. Leles, Kab. Ciamis, dan saat ini disimpan di EFEO Bandung.

Sumber: Ekadjati, Edi S. dan Darsa, Undang A. (1999). Jawa Barat, Koléksi Lima Lembaga: Katalog Induk Naskah Nusantara Jilid 5A. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Manuskrip Lainnya


Warisan Bandung: Kitab Waruga Alam, Suluk Syahadat dalam Wawacan

Telusuri kearifan lokal Bandung melalui Kitab Waruga Alam, sebuah manuskrip puisi wawacan berbahasa Sunda beraksara Pegon. Naskah ini memuat cerita suluk yang menguraikan pemahaman agama Islam melalui simbol-simbol, berdasarkan penjabaran 'dua kalimat syahadat'. Mari selami isi naskah yang kaya akan nilai-nilai spiritual.

Kisah Adipati Wira Tanu Datar: Bupati Cianjur yang Kontroversial

Telusuri kisah Adipati Wira Tanu Datar, seorang bupati Cianjur yang memerintah pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. Manuskrip ini mengungkap dinamika kepemimpinan dan intrik keluarga yang mewarnai pemerintahan Cianjur pada masa itu. Sebuah catatan sejarah yang menarik dari Perpustakaan Universitas Leiden.

Kisah Sayid Saman: Wawacan Penuh Hikmah dari Ciwidey

Telusuri kisah epik Sayid Saman dan Sayid Ira dalam manuskrip kuno berbahasa Sunda aksara Pegon. Wawacan ini mengisahkan perjalanan penuh liku dua putra raja yang terkena tenung, pengembaraan mencari jati diri, hingga perebutan tahta yang penuh intrik. Naskah ini menawarkan wawasan budaya dan sastra Sunda masa lampau.

Primbon: Meramal Nasib dengan Naktu Hari dan Perjalanan Bintang

Telusuri lembaran primbon kuno berbahasa Sunda yang mengungkap rahasia naktu hari dan perjalanan bintang. Manuskrip ini menawarkan panduan meramal nasib seseorang, khususnya dalam bepergian, demi meraih keberuntungan. Simak narasi lengkap mengenai kondisi fisik, asal-usul, dan isi teksnya.

Wawacan Ningrum Kusumah: Kisah Cinta, Pemberontakan, dan Kesaktian di Tanah Sunda

Telusuri kisah epik Suryaningrat dan Ningrum Kusumah dalam manuskrip Wawacan Ningrum Kusumah. Ditulis dalam bahasa Sunda dan aksara Pegon, naskah puisi wawacan ini mengisahkan perjalanan cinta, perjuangan melawan pemberontakan, hingga perolehan kesaktian yang mengubah takdir mereka. Sebuah warisan budaya yang memikat dari Ciamis.

Kumpulan Doa dan Mantra: Warisan Spiritual dari Banjaran Bandung

Temukan keindahan spiritualitas dalam manuskrip kuno "Kumpulan Doa dan Mantra". Naskah ini menghimpun doa-doa penting seperti doa Syekh Abdul Qadir Jaelani, marhaban, dan ayat-ayat Al-Quran pilihan. Lebih dari sekadar doa, naskah ini juga menyimpan mantra-mantra tradisional yang kaya akan makna.

Suluk-Suluk: Untaian Sajak Teologi dan Mistik dari Tanah Sunda

Temukan kekayaan khazanah intelektual Sunda melalui manuskrip Suluk-Suluk. Naskah ini berisi kumpulan sajak yang mendalam tentang teologi dan mistisisme. Tersimpan rapi di Perpustakaan Universitas Leiden, Suluk-Suluk menawarkan jendela ke pemikiran keagamaan dan budaya masyarakat Sunda di masa lampau.

Menjelajahi Primbon Sunda: Catatan Ramalan dan Pengetahuan Tradisional dari Bandung

Temukan warisan budaya Sunda melalui manuskrip kuno "Primbon". Naskah ini mengungkap catatan tradisional berbagai ramalan kejadian, mulai dari pertanian hingga pertanda alam. Disusun pada tahun 1930 di Sukasari, Bandung, primbon ini menawarkan wawasan unik tentang kepercayaan dan kehidupan masyarakat Sunda pada masa lalu.