Kabar Naskah

Menampilkan informasi manuskrip di Jawa Barat.

Layang Syekh Abdul Qadir Jaelani

Kisah Syekh Abdul Qadir Jaelani dalam Layang Jawa Kuno

Naskah Layang Syekh Abdul Qadir Jaelani mengisahkan riwayat hidup Syekh Abdul Qadir Jaelani sejak kecil hingga menjadi tokoh yang berpengaruh. Ia dilahirkan pada sekitar tahun 471 Hijriyah dan berguru kepada banyak ulama seperti Syekh Abdul Wafa, Abu Said Mubarak, dan Syekh Zakarya Yahya. Naskah ini ditulis dalam bentuk puisi wawacan dan terdiri dari 110 halaman. Fisik naskah menunjukkan kertas yang menguning karena usia, namun tulisan tinta hitam masih kontras. Manuskrip ini merupakan salinan abad ke-19 yang diperkirakan berasal dari Cirebon, dan kini tersimpan di EFEO Bandung. Naskah ini dahulu milik Bapak Madi dari Kp. Cangkuang, Desa Ciluncat, Kec. Banjaran, Kab. Bandung. Ukuran sampul dan halaman naskah adalah 17 x 21,5 cm, dengan ukuran tulisan 15 x 20 cm. Bagian awal teks dimulai dengan (... ) kalawan kamulyane, ing dalem laman, saking sakehe para kamulyane, ing dalem laman, saking sakelie para wali, ... (h. 1); dan teks bagian akhir adalah tawan ingkang pagawe karamat, lan kamulyana kang kekel saking yang widi, lan pangeran sajagat (h. 110).

Sumber: Ekadjati, Edi S. dan Darsa, Undang A. (1999). Jawa Barat, Koléksi Lima Lembaga: Katalog Induk Naskah Nusantara Jilid 5A. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Manuskrip Lainnya


Mengungkap Ajaran Tarekat: Warisan Naskah Kuno dari Kuningan

Naskah kuno bertajuk 'Tarekat' ini menyimpan khazanah pengetahuan mendalam tentang keimanan dan tauhid. Ditulis dalam bahasa Jawa dan Arab menggunakan aksara Pegon, naskah ini menguraikan konsep keislaman yang komprehensif, meliputi syareat, tarekat, hakekat, dan marifat. Mari selami lebih dalam isi dan detail fisik dari manuskrip berharga ini.

Wasiat Bupati: Pesan dari Sukapura untuk Pamijahan

Temukan wasiat kuno dari Bupati Sukapura yang ditujukan kepada Kuncen Pamijahan. Manuskrip ini mengungkap pesan penting tentang pelestarian dan penghormatan terhadap Makam Keramat Sekh Abdul Muhyi Waliyulloh. Sebuah warisan berharga dari abad ke-18 yang tersimpan di EFEO Bandung.

Mujarobat: Untaian Doa dan Ramalan dari Banjaran Bandung

Temukan keunikan naskah Mujarobat, sebuah manuskrip kuno yang memadukan ajaran agama, tradisi lokal, dan kearifan ramalan. Naskah ini menawarkan wawasan tentang praktik keagamaan dan kepercayaan masyarakat Sunda dan Jawa pada abad ke-19. Mari selami lebih dalam isi dan sejarah naskah yang memikat ini!

Ayat Lima Belas: Penolak Mara Bahaya dalam Genggaman

Manuskrip "Ayat Lima Belas" adalah cuplikan ayat-ayat suci Al-Quran yang diyakini memiliki kekuatan untuk menolak mara bahaya. Ditulis dalam bahasa Sunda dengan aksara Pegon dan Arab, naskah ini menjadi bukti upaya pemahaman dan penerapan ayat suci dalam kehidupan sehari-hari. Mari selami lebih dalam isi dan konteks manuskrip ini.

Kisah Jenaka Abu Nawas dalam Wawacan Sunda: Petualangan di Bagdad

Temukan kisah Abu Nawas yang cerdik dan jenaka dalam Wawacan berbahasa Sunda. Manuskrip ini mengisahkan petualangan Abu Nawas di Bagdad, di bawah pemerintahan Harun Al Rasyid. Sebuah fragmen dari masa lalu yang mengungkap kearifan lokal dan tradisi sastra Sunda.

Menelisik Kitab Shalat: Tuntunan Spiritual dari Pangalengan Abad ke-20

Temukan kebijaksanaan tersembunyi dalam Kitab Shalat, sebuah manuskrip Sunda beraksara Pegon yang berasal dari Pangalengan, Bandung. Naskah ini mengungkap hakikat shalat sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan, serta membahas kedudukan dzat dan nafsu dalam perjalanan spiritual manusia.

Munding Liman: Kisah Raja Kawung Gading dan Dua Permaisuri

Manuskrip Sunda berjudul Munding Liman mengisahkan tentang raja Kawung Gading bernama Purba Mantri Menak Pelog Pajajaran yang memiliki dua permaisuri. Teks ini, meskipun tokoh-tokohnya berasal dari masa pra-Islam, telah dilegitimasi secara Islam.

Menjelajahi Kedalaman Tasawuf Sunda: Wawacan Penuh Makna dari Banjaran

Temukan intisari ajaran tasawuf dalam manuskrip kuno berbahasa Sunda yang ditulis dalam aksara Pegon. Naskah berbentuk puisi wawacan ini mengungkap konsep sareat, hakekat, tarekat, dan marifat. Mari selami dunia simbolisme dan kearifan lokal melalui manuskrip yang berasal dari Banjaran, Bandung ini.