Kabar Naskah

Menampilkan informasi manuskrip di Jawa Barat.

Tarekat

Menjelajahi Pelajaran Agama Islam: Naskah Tarekat dari Garut

Naskah "Pelajaran Agama Islam" ini merupakan sebuah khazanah pengetahuan agama Islam, khususnya dalam bidang tasawuf. Manuskrip ini menguraikan konsep-konsep penting seperti syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat. Lebih detail, naskah ini menjelaskan tentang makrifat bismillah, shalat sejati, doa Fatimah, dan ilmu hakikat Allah. Selain itu, terdapat pula bacaan mantra, doa-doa, serta aturan pendirian bangunan. Naskah ini ditulis dalam bahasa Sunda dan Jawa dengan aksara Pegon, terdiri dari 38 halaman yang ditulis pada kertas lokal. Manuskrip ini diperkirakan berasal dari abad ke-20 dengan pengarang Mama Pura dari Leles, Garut. Naskah ini tersimpan di EFEO Bandung dan berasal dari Bapak U. Chaerudin, seorang warga Kp. Lempong, Kec. Leles, Kab. Garut.

Sumber: Ekadjati, Edi S. dan Darsa, Undang A. (1999). Jawa Barat, Koléksi Lima Lembaga: Katalog Induk Naskah Nusantara Jilid 5A. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Manuskrip Lainnya


Pepeling Indung Beurang: Warisan Naskah Sunda-Jawa tentang Kelahiran Bayi

Temukan warisan budaya Sunda-Jawa dalam naskah Pepeling Indung Beurang, sebuah risalah puisi wawacan yang mengungkap praktik dan kepercayaan seputar kelahiran bayi. Naskah ringkas ini, ditulis dalam aksara Pegon, memberikan wawasan tentang peran dukun beranak dan entitas spiritual yang terkait dengan proses kelahiran.

Untaian Surat Berbahasa Jawa: Kisah Wayang, Bahasa, dan Aturan Ejaan Belanda

Temukan keindahan surat-surat berbahasa Jawa dari koleksi Perpustakaan Universitas Leiden. Manuskrip ini mengungkap beragam topik, mulai dari kisah pewayangan Bandung Bandawasa, catatan perbendaharaan kata Kromo dan Ngoko, hingga peraturan ortografi Belanda untuk bahasa Jawa. Sebuah jendela unik ke dalam budaya dan sejarah Jawa.

Babad Banyumas: Kisah Raja-Raja Jawa dan Sejarah Lokal yang Memikat

Telusuri jejak sejarah raja-raja Jawa dan kisah lokal Banyumas dalam manuskrip kuno yang memikat ini. Dari Nabi Adam hingga kedatangan Raffles, Babad Banyumas menyajikan silsilah panjang yang menghubungkan mitos, legenda, dan peristiwa sejarah yang membentuk identitas budaya Jawa. Mari selami warisan budaya yang kaya ini!

Menjelajahi Pelajaran Agama Islam dalam Wawacan: Hakekat Wali Salapan

Manuskrip Pelajaran Agama Islam adalah khazanah berharga yang ditulis dalam bentuk puisi wawacan. Naskah ini menggunakan bahasa Sunda dan Jawa, serta aksara Pegon. Mari selami lebih dalam isi dan detail menarik dari manuskrip ini.

Rara Mendut: Kisah Cinta dan Perjuangan di Tanah Sunda

Manuskrip kuno ini menyimpan kisah epik Rara Mendut, seorang wanita Sunda yang berani menentang Raja Mataram demi cintanya. Terukir dalam bahasa Sunda dan aksara Pegon, naskah ini mengungkap intrik kerajaan, pengorbanan, dan kekuatan cinta sejati. Mari selami lembaran-lembaran waktu dan rasakan denyut kehidupan di masa lampau.

Sumpena: Kisah Pangeran Kembar dan Perebutan Tahta Yogyapala

Wawacan Sumpena, sebuah manuskrip puisi berbahasa Sunda beraksara Pegon, mengisahkan drama kehidupan yang penuh intrik dan perjuangan. Manuskrip ini menceritakan kisah Sumpena dan Kanagan, putra kembar Arya Dulkarnaen, dalam merebut kembali tahta kerajaan Yogyapala yang dirampas. Dengan bantuan Pendeta Guritsagara, mereka menghadapi berbagai rintangan hingga akhirnya berhasil memulihkan hak waris mereka.

Babad Ratu Galuh: Kisah Cinta Terlarang dan Pertarungan Takdir di Tanah Jawa

Manuskrip Babad Ratu Galuh dalam bahasa Jawa ini mengisahkan kisah cinta yang rumit, pertarungan takdir, dan intrik kerajaan di masa lalu. Ditulis dalam bentuk puisi tembang pada lontar, naskah ini menyimpan cerita menarik tentang Ratu Galuh, putranya Hariangbang, dan tokoh-tokoh penuh warna lainnya. Siapkah Anda menyelami kisah epik ini?

Suluk Gandasari: Kisah Persaudaraan dalam Mencari Hakikat Keislaman

Telusuri warisan sastra Sunda melalui manuskrip Suluk Gandasari, sebuah karya puisi wawacan yang ditulis dalam aksara Pegon. Naskah ini mengupas tuntas ajaran agama Islam melalui dialog antara dua saudara, Ki Ganda dan Ki Sari. Mereka berbagi pengalaman dalam memahami dzat, sifat, asma, iman, dan tauhid, menggunakan alam sekitar sebagai simbol.