Kabar Naskah

Menampilkan informasi manuskrip di Jawa Barat.

Tauhid Silsilah

Menelisik Tauhid dan Silsilah: Wawacan Sunda Abad ke-18 dari Cirebon

Manuskrip ini memuat uraian mendalam tentang dua kalimat syahadat, yang menjadi landasan pemahaman rukun Islam dan rukun Iman. Selain itu, dijelaskan pula sifat-sifat Allah, doa-doa, dan bacaan niat untuk wudu, shalat, puasa, serta ibadah lainnya. Menariknya, naskah ini juga menyertakan catatan silsilah Sunan Gunung Jati, menghubungkan garis keturunannya dari Nabi Muhammad SAW hingga Pangeran Aria Cirebon. Naskah yang ditulis pada abad ke-18 di Cirebon ini, memiliki judul dalam teks Bab Marifat (h. 1). Secara fisik, manuskrip ini terdiri dari 363 halaman dluwang dengan ukuran sampul dan halaman 24,5 x 17,5 cm, serta ukuran tulisan 16 x 9 cm. Sayangnya, kondisi fisik kertas terlihat kusam dan beberapa lembar robek, meski penjilidannya masih cukup baik. Naskah ini berasal dari Bapak Syafei Hidayat, Kp. Cipaku, Desa Tarajusari, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, dan saat ini disimpan di EFEO Bandung. Penulis naskah belum diketahui secara pasti, meskipun terdapat catatan silsilah Sunan Gunung Jati hingga Pangeran Aria Cirebon (h. 126).

Sumber: Ekadjati, Edi S. dan Darsa, Undang A. (1999). Jawa Barat, Koléksi Lima Lembaga: Katalog Induk Naskah Nusantara Jilid 5A. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Manuskrip Lainnya


Carios Suryaningrat III: Kisah Klasik dalam Wujud Wawacan Sunda

Telusuri kisah klasik Carios Suryaningrat III, sebuah karya sastra Sunda yang ditulis dalam aksara Pegon. Manuskrip ini adalah bagian ketiga dari sebuah seri, menawarkan wawasan tentang budaya dan sastra Sunda pada abad ke-20. Simak narasi lengkapnya untuk mengungkap lebih dalam isi dan detail fisik naskah ini.

Menjelajahi Sejarah Nusantara: Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara

Temukan warisan sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara melalui manuskrip kuno Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara. Naskah berbahasa Jawa Cirebon ini ditulis dengan aksara Cacarakan pada tahun 1683. Simak kisah Raden Patah dan tokoh-tokoh penting lainnya dalam Wali Sanga.

Kitab Fatimah: Tuntunan Rumah Tangga Islami Abad ke-20 dari Banjaran

Telusuri Kitab Fatimah, sebuah manuskrip berharga dari abad ke-20 yang berasal dari Banjaran, Bandung. Naskah ini berisi tuntunan bagi wanita dalam membina rumah tangga sakinah berlandaskan ajaran Islam, serta ajaran tasawuf yang mendalam. Mari kita simak lebih lanjut detail dan isi narasi dari kitab ini.

PELAJARAN AGAMA ISLAM (FIQIH): Tuntunan Iman dan Khutbah dari Bandung

Temukan warisan intelektual Islam dari abad ke-20! Manuskrip "PELAJARAN AGAMA ISLAM (FIQIH)" menyajikan panduan komprehensif tentang keimanan, hukum syarat, hingga tuntunan khutbah Idul Fitri. Tersimpan di EFEO Bandung, naskah ini menawarkan wawasan unik tentang praktik keagamaan di Jawa Barat.

Carita Suluk Panembahan Nirmala: Kisah Tasawuf dan Ajaran Keimanan dari Cirebon

Telusuri manuskrip kuno Carita Suluk Panembahan Nirmala, sebuah karya sastra yang kaya akan ajaran tasawuf dan nilai-nilai keimanan. Naskah ini menghadirkan cerita suluk yang memikat, diselingi doa-doa dan mantra-mantra yang sarat makna. Mari selami lebih dalam warisan budaya Cirebon yang berharga ini, yang ditulis pada tahun 1829.

Lalakon Ki Buhaér: Kisah Pengamen yang Menjadi Raja

Manuskrip Lalakon Ki Buhaér mengisahkan perjalanan hidup seorang anak miskin bernama Buhaér yang akhirnya menjadi raja. Ditulis dalam bentuk puisi wawacan berbahasa Sunda dan beraksara Pegon, naskah ini menyimpan cerita menarik tentang cinta, takdir, dan perubahan wujud yang penuh misteri.

Kisah Ahmad Muhammad: Wawacan Sunda Abad ke-20 dari Pangalengan

Telusuri kisah epik Ahmad dan Muhammad, dua saudara kembar putra Srinarendra Raja Jemur dari Kerajaan Habsah. Naskah wawacan berbahasa Sunda ini mengisahkan perjalanan penuh tantangan mereka hingga menjadi Raja di Mesir. Sebuah warisan budaya yang kaya dari Pangalengan, Bandung.

Kisah Cinta dan Perebutan Kekuasaan dalam Wawacan Angling Sari

Wawacan Angling Sari, sebuah manuskrip Sunda beraksara Pegon, mengisahkan tentang intrik kerajaan, cinta terlarang, dan perebutan kekuasaan. Naskah puisi ini ditulis pada tahun 1970 oleh Ibu Wahir di Banjaran, Bandung, dan kini tersimpan di EFEO Bandung. Kisah ini membawa kita ke negeri Pulung Kancana dan Puloseta, tempat Angling Sari berjuang merebut kembali haknya.