Kabar Naskah

Menampilkan informasi manuskrip di Jawa Barat.

Tafsiran Adus

Tafsiran dan Jampe Adus: Pesona Doa Mandi dalam Syair Sunda

Manuskrip ini berisi tentang bacaan atau jampe adus, seperti yang terungkap dalam kutipan "niat isun arep adus ngadusan urat lan lamad fadma sari, suka sari fadma. suka sari fadma". Uniknya, setiap hari memiliki jampe adus tersendiri. Naskah diawali dengan pupuh asmarandana yang menyatakan bahwa kitab ini adalah tafsir Surat Al-Fatihah yang asalnya dari bahasa Jawa kemudian digubah ke dalam bahasa Sunda. Lebih detail, naskah setebal 14 halaman ini ditulis dalam bahasa Arab dan Sunda menggunakan aksara Arab dan Pegon. Ditulis di atas kertas Eropa dengan cap 'Superfm 1897', teks ini disalin pada abad ke-19 di Bandung. Naskah ini berasal dari Bapak Endjum dari Batukarut, Pameungpeuk, Bandung, dan kini tersimpan di EFEO Bandung. Kondisi fisik naskah menunjukkan kertas yang kusam dan bercak hitam, serta penjilidan yang longgar, namun teksnya masih utuh. Penomoran halaman ditambahkan kemudian dan tinta yang digunakan berwarna biru dengan tingkat kontras yang kurang baik.

Sumber: Ekadjati, Edi S. dan Darsa, Undang A. (1999). Jawa Barat, Koléksi Lima Lembaga: Katalog Induk Naskah Nusantara Jilid 5A. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Manuskrip Lainnya


Petualangan dan Cinta: Narasi Wawacan Maesa Jaladri dan Mastuhu dari Koleksi Snouck Hurgronje

Telusuri kisah kepahlawanan dan romansa dalam dua Wawacan Sunda kuno, Maesa Jaladri dan Mastuhu. Dari Mesir hingga Karangkancana, dari Bagdad hingga Bahrul Padang, ikuti petualangan mereka meraih takhta dan cinta sejati. Naskah ini tersimpan rapi dalam koleksi Snouck Hurgronje di Perpustakaan Universitas Leiden.

Suryakanta: Kisah Putra Suryaningrat dalam Wawacan Beraksara Pegon

Telusuri kisah epik Suryakanta, putra Suryaningrat, melalui manuskrip kuno "Suryakanta". Naskah berbentuk puisi wawacan ini ditulis dalam aksara Pegon dan berbahasa Sufida. Simak lika-liku kehidupannya, intrik di antara istri-istri Suryaningrat, hingga pertemuannya kembali dengan sang ibu setelah diculik raksasa.

Wawacan Paras Adam: Kisah Tasawuf dalam Syair Sunda

Manuskrip Wawacan Paras Adam adalah sebuah karya sastra Sunda berbentuk puisi wawacan yang berisi uraian ajaran tasawuf. Naskah ini membahas konsep-konsep penting seperti syariat, tarekat, hakikat, makrifat, dan lainnya melalui simbol-simbol tertentu. Mari kita selami lebih dalam mengenai naskah ini.

Wawacan Jaka Paringga: Kisah Cinta dan Kesaktian di Tanah Sunda

Telusuri kisah cinta dan kesaktian dalam manuskrip Wawacan Jaka Paringga. Naskah berbahasa Sunda beraksara Pegon ini mengisahkan perebutan putri cantik Jaka Paringga oleh para raja, hingga hadirnya Raden Elang yang sakti mandraguna. Temukan bagaimana cinta dan kesaktian berpadu dalam latar budaya Sunda.

Wawacan Pua-pua Bermanasakti: Kisah Islamisasi di Tanah Sunda

Telusuri jejak islamisasi di Nusantara melalui Wawacan Pua-pua Bermanasakti. Manuskrip puisi berbahasa Sunda beraksara Pegon ini menyimpan kisah menarik yang berkaitan dengan Majapahit dan proses penyebaran agama Islam. Kondisi fisik naskah yang berasal dari Pangalengan, Bandung ini memperlihatkan usianya yang diperkirakan dari abad ke-20.

Mengungkap Sejarah Dedemit Pulau Jawa: Kisah Mistis dan Mantra Pelindung

Telusuri dunia mistis Pulau Jawa melalui manuskrip kuno "Sejarah Dedemit Pulo Jawa". Naskah ini mengungkap keberadaan roh halus penguasa wilayah, lengkap dengan mantra penangkal bahaya. Sebuah catatan unik tentang kepercayaan dan tradisi masyarakat Sunda-Jawa di masa lampau.

Pandita Sawang (Waruga Alam): Kisah Suluk dan Ajaran Keislaman dari Bandung

Manuskrip Pandita Sawang (Waruga Alam) adalah sebuah karya sastra Sunda berbentuk puisi wawacan yang berisi cerita suluk. Naskah ini memuat ajaran keislaman, khususnya tentang pemahaman eksistensi Ketuhanan melalui tasawuf. Mari selami lebih dalam isi dan detail menarik dari naskah kuno ini.

Doa dan Mantra: Warisan Spiritual dari Sumedang Abad ke-20

Temukan kekayaan spiritualitas dalam manuskrip "Doa dan Mantra", sebuah warisan berharga dari Sumedang abad ke-20. Naskah ini menghadirkan kombinasi unik antara doa-doa Islami dan mantra-mantra tradisional Sunda. Manuskrip ini menawarkan jendela ke dalam praktik keagamaan dan kepercayaan masyarakat Sunda pada masa lalu.