Kabar Naskah

Menampilkan informasi manuskrip di Jawa Barat.

Tarekat

Tarekat: Untaian Dzikir dan Doa dari Cirebon Abad ke-19

Manuskrip ini berisi tentang aturan dzikir yang mengikuti tradisi ulama, termasuk ajaran Kiyai Abdul Ibnu Satori, serta doa-doa tahlil yang telah diamalkan sejak seabad lalu. Selain itu, terdapat pula isim Adam yang berfungsi sebagai penolak marabahaya, doa untuk menjaga suatu tempat, dan doa untuk melumpuhkan penjahat. Naskah ini ditulis dalam bahasa Arab dan Jawa, menggunakan aksara Arab dan Pegon. Fisiknya menunjukkan usia yang cukup tua, dengan kertas kekuning-kuningan dan penjilidan yang kendor. Manuskrip Tarekat ini terdiri dari 43 halaman, ditulis pada kertas Eropa dengan cap "Garden of Holland", namun hanya 35 halaman yang berisi tulisan. Penomoran halaman ditambahkan kemudian dengan pensil. Naskah ini berasal dari Keraton Kasepuhan Cirebon pada abad ke-19 dan masih tersimpan di sana hingga kini. Terdapat catatan menarik di halaman terakhir yang ditulis dengan Cacarakan berbahasa Jawa dialek Cirebon, berisi perhitungan waktu untuk bepergian.

Sumber: Ekadjati, Edi S. dan Darsa, Undang A. (1999). Jawa Barat, Koléksi Lima Lembaga: Katalog Induk Naskah Nusantara Jilid 5A. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Manuskrip Lainnya


Mujarobat: Warisan Naskah Cirebon Abad ke-19

Telusuri lebih dalam khazanah naskah Mujarobat, sebuah manuskrip kuno yang mengungkap perpaduan unik antara tradisi keislaman dan kearifan lokal. Naskah ini menyimpan mantra-mantra pertanian, doa-doa keselamatan, hingga silsilah penguasa Galuh yang memeluk Islam.

Lokayanti: Kisah Raja Kafir dan Penyebaran Islam di Tanah Mekah

Telusuri kisah epik Lokayanti, sebuah manuskrip Sunda yang ditulis dalam aksara Pegon. Manuskrip ini mengisahkan riwayat para tokoh penyebar agama Islam di Mekah dan sekitarnya, dengan fokus pada tokoh Lokayanti, seorang raja kafir yang memiliki seorang putri bernama Amir Hamzah. Konflik, peperangan, dan perjuangan Umarmaya mewarnai kisah ini hingga akhir hayat Lokayanti.

Bental Jemur: Kisah Ramalan dan Persahabatan dalam Wawacan Sunda

Telusuri kisah Bental Jemur, sebuah naskah wawacan berbahasa Sunda beraksara Pegon yang berasal dari Cijulang, Ciamis. Naskah ini menceritakan tentang ramalan, persahabatan, dan intrik kerajaan yang melibatkan tokoh-tokoh seperti Nabi Muhammad SAW, Amir Hamzah, dan Bental Jemur sendiri. Sebuah warisan budaya yang kaya akan nilai-nilai luhur.

Sisindiran: Nasihat Sunda Abad ke-19 dalam Untaian Pantun

Telusuri kearifan lokal Sunda melalui manuskrip Sisindiran, sebuah khazanah puisi abad ke-19 yang berisi nasihat bijak dan ajaran agama Islam. Dikemas dalam bentuk pantun jenaka, naskah ini menawarkan sentuhan humor dalam setiap petuahnya. Warisan budaya dari Bandung yang sarat makna.

Kisah Jenaka Abu Nawas dalam Wawacan Sunda: Petualangan di Bagdad

Temukan kisah Abu Nawas yang cerdik dan jenaka dalam Wawacan berbahasa Sunda. Manuskrip ini mengisahkan petualangan Abu Nawas di Bagdad, di bawah pemerintahan Harun Al Rasyid. Sebuah fragmen dari masa lalu yang mengungkap kearifan lokal dan tradisi sastra Sunda.

Uga Jagabaya: Menjelajahi Ramalan Masa Depan dalam Naskah Sunda Kuno

Naskah kuno Uga Jagabaya menyimpan misteri ramalan masa depan dalam balutan bahasa dan aksara Sunda. Tersembunyi di antara lembaran kertas yang mulai rapuh, teks prosa ini menawarkan pandangan tentang hal-hal yang mungkin terjadi di masa mendatang. Mari kita telusuri lebih dalam isi dan detail naskah yang penuh teka-teki ini.

Kitab Tauhid: Kearifan Lokal Cianjur dalam Untaian Doa

Telusuri kedalaman spiritualitas masyarakat Cianjur melalui Kitab Tauhid, sebuah manuskrip yang memadukan ajaran tauhid dengan kearifan lokal. Naskah ini menjadi penuntun hidup dengan menjabarkan tiga prinsip utama: mamaos (seni tembang Sunda), maen-po (penghayatan ajaran Islam), dan implementasi nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

Layang Seh: Kisah Syekh Abdul Qadir Jaelani dalam Wawacan Cirebon

Temukan pesona Layang Seh, fragmen dari Wawacan Syekh Abdul Qadir Jaelani berbahasa Jawa Cirebonan. Naskah kuno ini, ditulis dalam aksara Pegon, memuat episode ke-32 dari kisah sang wali. Simak uraian tentang kondisi fisik naskah, asal-usulnya, dan petunjuk tentang penulisnya.