Kabar Naskah

Menampilkan informasi manuskrip di Jawa Barat.

Pancendriya

Menjelajahi Naskah Kuno: Pancendriya dan Umdatul Ansab dari Jawa Barat

Naskah 'Pancendriya dan Umdatul Ansab' adalah khazanah intelektual yang berasal dari Jawa Barat. 'Pancendriya' sendiri merupakan puisi alegoris berisi nasihat, mengisahkan Raja Budiman dari Kiyam pada tahun 1270 Hijriah (1853 Masehi). Setelahnya, terdapat tiga pupuh yang membahas pertanian sawah dan kewajiban zakat, yang disebut suluk. Bagian kedua, 'Umdatul Ansab', menyajikan rangkaian kitab Rawadat, termasuk Anbiya, yang berisi kisah para nabi, catatan tentang kiamat, dan deskripsi negeri-negeri pada masa itu. Naskah ini juga memuat pupuh tentang ramalan perkutut pada akhir tahun 1275 Hijriah (1858 Masehi), tafsir Fittihah dalam bentuk prosa, serta catatan mengenai ilmu agama yang membahas syahadat dan mistik. Menariknya, terdapat selipan catatan berbahasa Sunda di dalamnya. Naskah ini ditulis dalam huruf Arab, menggunakan bahasa Arab, dengan bentuk puisi dan prosa. Naskah ini memiliki ukuran 21 x 35 cm dan 14,5 x 26 cm, dengan tebal 59 halaman. Saat ini, naskah ini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden.

Sumber: Ekadjati, Edi S. (1988). Naskah Sunda: Inventarisasi dan Pencatatan. Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran.

Manuskrip Lainnya


Suluk Piwulang: Petuah Bijak dari Pangalengan, Bandung

Temukan kebijaksanaan dalam Suluk Piwulang, sebuah manuskrip Sunda beraksara Pegon yang sarat dengan ajaran budi pekerti Islam. Naskah ini, ditulis oleh Abah Mas Kayi pada tahun 1962 di Pangalengan, Bandung, mengajak kita untuk merenungkan kekuasaan Tuhan dan meningkatkan ketakwaan.

Menjelajahi Catatan Mistik: Warisan Spiritual dari Garut Abad ke-19

Telusuri lembaran-lembaran usang 'Catatan Mistik', sebuah manuskrip kaya akan ajaran spiritual dari abad ke-19. Berasal dari Limbangan, Garut, naskah ini menawarkan jendela ke dalam praktik mistik, tarekat Sattariyah, dan tradisi keagamaan masyarakat Jawa. Temukan lebih dalam tentang wirid, doa-doa, dan ramalan yang terkandung di dalamnya.

Untaian Doa: Warisan Spiritual dari Bandung Abad ke-20

Temukan pesona naskah kuno 'Kumpulan Doa', sebuah warisan spiritual dari Bandung abad ke-20. Naskah ini menghadirkan doa-doa, ayat suci Al-Quran, salawat, dan dzikir sebagai hadiah bagi Nabi Muhammad SAW dan tokoh-tokoh suci lainnya. Simak kisah lengkap dan detail manuskrip ini!

Primbon Tarekat Satariyah: Jejak Mistik dari Garut hingga Leiden

Telusuri warisan spiritual Jawa melalui Primbon Tarekat Satariyah. Manuskrip ini mengungkap teologi dan mistik yang kaya, diturunkan dari para tokoh spiritual terkemuka. Disalin oleh Hasan Mustapa pada tahun 1908, primbon ini menyimpan jejak perjalanan mistik dari Garut hingga Perpustakaan Universitas Leiden.

Lokayanti: Kisah Cinta dan Heroisme Islam dalam Wawacan Sunda

Manuskrip Lokayanti adalah sebuah karya sastra Sunda berbentuk wawacan yang mengisahkan perjuangan tokoh-tokoh Islam melawan kaum kafir. Diwarnai intrik cinta dan peperangan, naskah ini menawarkan gambaran menarik tentang nilai-nilai kepahlawanan dan keagamaan pada masanya. Sayangnya, naskah ini tidak utuh dan banyak bagian hilang.

Kisah Unik Dayang Sumbi: Legenda Sunda yang Penuh Kejutan

Manuskrip "Cerita Legenda" mengungkap kisah Dayang Sumbi yang tak biasa. Mulai dari kelahiran sang putri akibat peristiwa aneh, hingga keterkaitannya dengan tokoh-tokoh penting dalam sejarah dan legenda Sunda. Sebuah prosa berbahasa Sunda yang memikat!

Babad Pakuan: Kisah Pajajaran dalam Untaian Pupuh

Telusuri jejak sejarah Pajajaran melalui manuskrip Babad Pakuan. Naskah berbahasa Jawa ini ditulis dalam aksara Cacarakan dan berbentuk puisi wacan. Tersimpan rapi di Museum Negeri Jawa Barat “Sri Baduga” Bandung, naskah ini menawarkan gambaran mendalam tentang silsilah dan keadaan negeri Pajajaran.

Wasiat Bupati: Pesan dari Sukapura untuk Pamijahan

Temukan wasiat kuno dari Bupati Sukapura yang ditujukan kepada Kuncen Pamijahan. Manuskrip ini mengungkap pesan penting tentang pelestarian dan penghormatan terhadap Makam Keramat Sekh Abdul Muhyi Waliyulloh. Sebuah warisan berharga dari abad ke-18 yang tersimpan di EFEO Bandung.