Kabar Naskah

Menampilkan informasi manuskrip di Jawa Barat.

Silsilah Sunda

Menelusuri Jejak Leluhur: Silsilah Luhur Sunda dalam Manuskrip Kuno

Manuskrip Silsilah Luhur Sunda memuat berbagai informasi menarik, mulai dari silsilah para leluhur Sunda seperti Ratu Galuh, Ciung Wanara, Siliwangi, Ratu Komara, Lutung Kasarung, Gunung Jati, hingga silsilah para nabi. Tak hanya itu, naskah ini juga menyajikan eskatologi, ajaran agama, kepercayaan, ramalan (astrologi, ramalan mimpi, gerhana), serta catatan pribadi dan keluarga. Berasal dari awal abad Jce-19 dan dari wilayah barat Pasundan, Timbanganten, naskah ini dulunya milik K.F. Holle, kemudian menjadi naskah milik KBG (C 72 (?)). Koleksi Snouck Hurgronje no. 33 ini berukuran 18 x 22,5 cm (ukuran halaman) dan 14 x 17 cm (ukuran tulisan), terdiri dari 346 halaman dengan 17 baris tulisan per halaman. Ditulis dalam huruf Jawa menggunakan bahasa Jawa dan Sunda, naskah berbentuk prosa ini disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. Sebuah ringkasan dalam bahasa Jawa yang tidak sepenuhnya akurat ditambahkan oleh Cakra Amijaya pada tahun 1867.

Sumber: Ekadjati, Edi S. (1988). Naskah Sunda: Inventarisasi dan Pencatatan. Bandung: Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran.

Manuskrip Lainnya


Primbon Tarekat Satariyah: Jejak Mistik dari Garut hingga Leiden

Telusuri warisan spiritual Jawa melalui Primbon Tarekat Satariyah. Manuskrip ini mengungkap teologi dan mistik yang kaya, diturunkan dari para tokoh spiritual terkemuka. Disalin oleh Hasan Mustapa pada tahun 1908, primbon ini menyimpan jejak perjalanan mistik dari Garut hingga Perpustakaan Universitas Leiden.

Suluk Gandasari: Kisah Tasawuf dalam Wawacan Sunda

Telusuri kearifan lokal Sunda melalui Suluk Gandasari, sebuah manuskrip puisi wawacan yang memuat ajaran tasawuf. Naskah ini menghadirkan dialog berbingkai antara Ki Ganda dan Ki Sari, dua saudara yang membahas hakikat hidup, kehidupan dunia-akhirat, hingga konsep ketauhidan.

Kidung Rumeksa Ing Wengi: Untaian Doa dan Makna Kehidupan dalam Naskah Sunda Kuno

Kidung Rumeksa Ing Wengi adalah sebuah naskah puisi wawacan berbahasa Sunda yang ditulis dalam aksara Pegon. Naskah ini berisi tentang refleksi mendalam mengenai manusia, lingkungan, dan berbagai fenomena kehidupan. Mari kita selami lebih dalam isi dan detail menarik dari manuskrip kuno ini.

Kumpulan Doa dan Mantra: Warisan Spiritual dari Banjaran Bandung

Manuskrip ini menghadirkan khazanah spiritual dari abad ke-19 yang berasal dari Banjaran, Bandung. Di dalamnya terhimpun beragam doa, mantra, dan petuah yang ditulis dalam bahasa Sunda, Jawa, dan Arab menggunakan aksara Pegon. Lebih dari sekadar koleksi teks, naskah ini adalah cerminan kearifan lokal dalam menjalani kehidupan.

Kisah Kedermawanan Ibrahim: Antara Raja dan Pembunuh Bayaran

Manuskrip kuno 'Carita Ibrahim' mengisahkan keagungan budi Ibrahim Hatim Tayi, seorang tokoh yang kedermawanannya melegenda. Dua raja menguji kemurahan hatinya, namun justru popularitasnya semakin melambung hingga memicu rasa dengki raja Yaman. Lalu, bagaimana Ibrahim menghadapi utusan pembunuh yang dikirimkan?

Menelusuri Jejak Kerajaan Nusantara dalam Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara

Naskah kuno Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara membuka jendela pengetahuan tentang riwayat kerajaan-kerajaan di Nusantara. Ditulis dalam bahasa Jawa Cirebon dengan aksara Cacarakan, manuskrip ini merupakan bagian penting dari khazanah budaya Cirebon. Mari selami lebih dalam isi dan detail menarik dari naskah ini.

Wawacan Panguragan: Kisah Sayembara Putri Sakti dari Cirebon

Telusuri kisah epik Nyi Mas Panguragan/Gandasari, seorang putri sakti dari Cirebon, dalam manuskrip kuno Wawacan Panguragan. Naskah ini menceritakan sayembara sang putri hingga pertemuannya dengan Syekh Magelung. Sebuah warisan budaya yang kaya akan nilai sejarah dan sastra.

Sumpena: Kisah yang Terkoyak Waktu, Jejak Tarekat di Bandung

Telusuri fragmen kisah Sumpena Kanagan, tokoh yang riwayatnya terukir dalam lembaran naskah kuno. Manuskrip ini, ditulis dalam bahasa Sunda beraksara Pegon, menyimpan bagian penting dari perjalanan hidup Sumpena dan diakhiri dengan terjemahan tarekat dari bahasa Jawa. Sayangnya, waktu telah mengikis sebagian besar naskah ini, meninggalkan teka-teki bagi kita untuk dipecahkan.